Pagi itu langit terlihat mendung, aku menatap langit
mungkinkah akan turun salju ? tanyaku dalam hati. Kuulurkan kedua tanganku
kedepan tiba-tiba bulir-bulir es kecil mendarat tepat di kedua telapakku
"salju" gumamku pelan, aku kembali menatap langit bulir-bulir salju
mulai berjatuhan orang-orang yang ada di sekitarku terlihat senang melihat
salju turun, aku tersenyum kemudian kututup kedua mataku sambil menjulurkan
kedua telapak tanganku ke depan aku berterima kasih kepada Tuhan karena
keinginanku untuk melihat salju pertam di Korea Selatan tepatnya Seoul
tercapai, aku menyentuhnya salju sungguhan salju yang benar-benar jatuh dari
langit. Aku tertawa kecil dan bertariak entah orang-orang ingin menganggapku
tidak waras aku tak peduli kebahagiaanku untuk petama kali semenjak ku
menapakkan kakiku di negeri para Boyband dan Girlsband yang unyu dan kece ini.
Kutarik nafasku panjang, melihat orang-orang di
sekitarku yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaan masing-masing, yah begitulah
rakyat korea mereka terkenal lebih mengutamakan pekerjaan dari pada istirahat
karena mereka berfikir jika menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak berguna
maka itu artinya mereka juga akan membuang kesempatan untuk mendapatkan uang.
Hahahah aku tertawa sendiri memikirkan bagaimana jika hal ini terjadi pada
rakyat Indonesia ?
mungkin mereka
akan mengeluh apalagi hampir semuanya tergolong manusia pemalas da itulah salah
satu faktor mengapa Indonesia negara kita tercinta ini tidak bisa maju. Eits
jangan berburuk sangka dulu yah aku bukannya mencemoh negara sendiri tapi ini
hanya sebuah penanggapan dan mungkin bukan hanya aku seorang yang berkata
seperti ini.
Kulangkahkan kakiku sambil menggenggam kamera dan tak
hentinya menjepret sana-sini, sering kali kuterkesima melihat masyarakat korea
selatan (Seoul) bekerja begitu keras untuk mencapai tujuan dan keinginan mereka
dari mereka aku mendaptkan banyak pelajaran dan aku sadar ini akan menjadi
sebuah kesan baik dalam sejarah hidupku, di Indonesia memang banyak hal yang
membuatku terkesima tapi akan berbeda jika kita melihat dari negara lain dan
itulah yang kurasakan perbedaan yang sangat jauh tidak membuat mereka menyerah
begitupun Indonesia tapi sayang di Indonesia lebih
mengidolakan korupsi di
banding menjaga nama baik negara sendiri. Aku kembali tersenyum sembari
menggeleng kepala, apa yang kufikirkan ? aah ini bukan saatnya untuk memikirkan
hal-hal seperti itu ini saatnya aku bersenang-senang menikmati masa liburanku
di Seoul aku tak ingin ini semua berantakan hanya karena hal-hal yang tak
penting huft aku mendesah pelan dan kembali melangkahkan kaki.
Tiba-tiba terdengar suara benturan yang cukup keras,
suara itu berasal dari arah kanan tempatku berpijar sekarang. Salju turun
semakin banyak kukeluarkan mantel dingin yang kubawa sebelum berangkat dari tas
punggungku yang kemudian kukenakan, udara semakin dingin aku menggerutu
kedinginan tapi itu tak mengapa kumulai mencari asal suara benturan yang tadi
mengusikku, kulihat ada banyak kerumunan orang aku berfikir apakah terjadi
sebuah kecelakaan ? dan ternyata setelah ku pastikan itu benar-benar jauh dari
apa yang kubayangkan. Ternyata hanya sebuah perayaan aku tak melewartkan momen
ini aku dengan sigap menjempret kesana kemari hingga ku tak menyadari ternyata
aku menyenggol sesorang, "aah miane omonim.." aku sedikit tau berbaha
korea dan untunglah orang yang ku senggol tidak marah dia malah tersenyum dan
menepuk punggungku dan menyuruhku untuk berhati-hati aku membalas senyumnya
"heh lega" desahku.
***
Hari semakin gelap salju sudah tak turun aku
memutuskan untuk kembali ke apartemen namun sebelum itu aku membeli makanan
karena dari tadi aku belum makan apapun. Aku tertarik dengan satu warung kecil
dan aku memilih untuk makan disitu. Aku tak memesan makanan terlalu banyak,
bukan karena sedang mengirit tapi aku takut nantinya tidak akan habis dan kata
mamaku itu tidak baik karena aku telah membuang rezeki yang diberikan Tuhan
hahah aku jadi merindukan Mama dan Papaku tapi aku membiarkan itu semua dan ku
bulatkan tekatku untuk belajar mandiri aku juga sudah berjanji kepada Mama dan
Papa untuk tidak menjadi anak manja yang hanya pintar berhura-hura dan alhasil
aku memang tidak menyukai hal-hal seperti itu. Kusantap makanan yang dibawakan
oleh seorang bibi yang masih terlihat muda mungkin umurnya tidak jauh dari
mamaku dia tersenyum sambil mempersilhkanku untuk segera menyantap masakannya
"ye' khamzahamnida ahjumma" dia hanya tersenyum dan berlalu
meninggalkanku sendiri.
Makananku telah habis, kulihat jam tanganku ternyata
sudah hampir jam 12 malam, tapi masih banyak masyarakat yang bekerja ya ampun
ngaak cape' tuh orang kerja mulu' ? gumamku dalam hati. Aku meninggalkan uang
di atas meja "Ahjumma gumawo" bibi itu menghampiriku
"khamzahamnida" sambil membungkukkan badannya yah itulah tradisi
masyarakat orang korea selalu menghormati orang-orang tanpa memandang usia.
Kuputuskan untuk kembali ke apartement, kusetop sebuah taxi dan mengarahkannya
untuk ke daerah gangnam karena disitulah apartemenntku berada.
***
Aku baru selesai mandi, kumenggenggam sebuah gelas
minuman dan terduduk diam di sebuah sofa yang cukup besar yang ada di teras
apartemenku, aku menatap langit dan mengambil sebuah pena dan buku catatan yang
biasa kusebut sebagai buku catatan harianku yaitu Diari aku mulai menulis semua
hal-hal yang ku alami hari ini dan tak lupa kuceritakan pada diariku bahwa hari
ini aku merasa sangat bahagia karena aku melihat salju pertama kutulis semuanya
hingga ku tersadar bahwa sekarang sudah hampir jam 3 lewat kata terakhir
sebelum mengakhiri tulisanku di diari "i'm so very happy this day because
i see my first snowin seoul" aku menutup buku diari dan tersenyum. Aku
menutup pintu taman dan memasuki kamar, aku berdoa semoga besok adalah hari
yang baik untukku memulai semuanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar